Sappuran Siborpa atau air terjun
Sappuran ini, berada di Desa Tanjungbaru.Letaknya lumayan jauh, sekitar 31 kilometer dari Sipirok, Tapanuli Selatan (Tapsel), Propinsi Sumatar Utara.

Medan berat dan berbatu jadi kendala menuju Desa Tanjungbaru.Karena itu margetek atau ojek,
satu-satunya angkutan umum yang tersedia.Ongkosnya pun tak murah, sekitar 250 ribu untuk
sekali jalan, dari Kecamatan ipagimbar menuju Desa Tanjungbaru. Menempuh perjalanan dua jam,
pengunjung dapat menyaksikan panorama hutan yang masih alami.Jalan tanah berbatu, tanjakan
danlembah curam, membuat perjalanan terasa berat. Belum lagi bila hujan turun, kondisi tanah
berlumpur sangat sulit ditembus dalam waktu singkat. Namun beratnya perjalanan ini terasa
ringan ketika bertemu dengan pemukiman penduduk yang asri. Tak salah bila beristirahat sejenak
dikampung-kampung kecil sepanjang jalan menuju Desa Tanjungbaru. Tiba di Desa ini, perjalanan
harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Sappuran Siborpa. Jaraknya sekitar 1 kilometer
dari desa Tanjungbaru. Meski tak terlalu jauh, namun menuju wisata air terjun Sappuran cukup
menguras tenaga. Jalan setapak satu-satunya jalur yang harus dilalui. Membelah hutan dan
lebatnya pepohonan di sepanjang jalur. Hutan Aek Bilah namanya. Termasuk dalam hutan hujan
yang masuk dalam wilayah konservasi hutan lindung Tapanuli Selatan. Konon, warga kampung
sering berpapasan dengan Harimau akar di atas pepohonan. “Tapi tak berbahaya asalkan kita tak
mengusiknya,” ujar Irpan, seorang warga desa Tanjungbaru. Menurut Irpan, yang tak kalah
menarik adalah, di hutan Aek Bilah ini banyak dijumpai bermacam-macam burung berkicau,
monyet dan babi hutan. “Dulu, pengunjung sering berburu di hutan ini.Tapi karena letaknya yang
cukup jauh dan terkendala transportasi, hanyabeberapa kelompok saja yang datang,” ujar Irpan
lagi.Setelah menempuh perjalanan sekitar 60 menit, akhirnya pengunjung tiba di objek Wisata
Sap[uran Siborpa. Air terjun Sappuran ini tingginya sekitar 30 meter. Terbentuk dari pertemuan
anak-anak sungai, antara lain sungai Sipange, Balimbing, Aek Bilah, Sirau, dan anak Sungai
Panjamaan. Wisata Sappuran Siborpa ini pernah dilirik oleh investor asing. Namun hingga saat ini
tak terdengar perkembangannya. “Katanya mau dibikin pembangkit listrik dan taman wisata air
terjun. Kerja sama dari beberapa negara seperti Jepang, Prancis, dan Inggris. Namun sampai saat
ini tak tau keputusannya. Mungkin dibatalkan karena nilai kontrak tak sesuai,” ujar Ali
Tambunan (45), mantan Kepala Desa Tanjungbaru. Padahal Sappuran Siborpa ini objek wisata
yang cukup bagus di Sumatra Utara. Lokainya strategis untuk dibuatkan berbagai fasilitas bagi
wisatawan. Pasalnya, di Sungai Aek Bilah ini habitat asli ikan merah. Ikan yang beratnya bisa 10
kg seekornya. Selain ikan merah, ada juga ikan Baung dan ikan Tapu. Hampir setiap saat
pelancong mancing di sungai Aek Bilah ini. Mereka kebanyakan berasal dari Rantau Parapat,
Kabupaten Labuaha Batu. “Masih banyak potensi wisata yang bisa dijual dari kampung ini. Namun
kondisi jalan dan sarana angkutan umum, sangat minim. Ditambah lagi listrik dan air bersih yang
tak kunjung tiba. Bagaimana mungkin wisatawan datang ketempat ini,” ujar Jadi (55), sesepuh di
desa Tanjungba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s