PADANGBOLAK – Harga karet di Paluta dan Madina melorot sejak sepekan terakhir. Penurunan harga berkisar Rp3 ribu hingga Rp4 ribu per kg. Diperkirakan anjloknya harga karena produksi getah karet menurun karena curah hujan yang tinggi.

Di Gunung Tua, Kecamatan Padang Bolak, Paluta, harga karet Rp14 ribu per kg, atau turun sekitar Rp4 ribu dari harga sebelumnya, Rp18 ribu.

“Anjloknya harga karet, sepekan terakhir ini berpengaruh terhadap pendapatan warga Gunung Tua ini. Untuk beli pupuk saja kadang harus mengutang sama toke, karena tidak sesuai dengan harga karet,” kata seorang petani karet, Komar Harahap (37), warga Purbasinomba, Kecamatan Padang Bolak, Jumat (30/9).

Diutarakannya, turunnya harga karet ini membuat petani banyak menahan atau tidak menjual karetnya sambil menunggu harga naik, namun ada juga yang tetap melepas dengan alasan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Sejak harga sepekan ini turun, banyak warga yang menahan menjual karetnya. Namun, tetap ada sebahagian petani yang menjual. Alasannya, kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan, P Pane (29). Diakuinya, sejak harga karet anjlok, petani karet pun sudah mulai banyak yang malas menderes karena rendahnya harga getah karet.

“Petani karet mulai malas menderes, begitu juga tukang deres sudah banyak yang tidak mau bekerja sebagai penderes. Sebab, hasil menderes tidak mampu lagi untuk menopang kehidupan rumah tangga, apalagi dalam sistem upah menderes dengan memakai sistem bagi hasil,” terangnya.

Keduanya berharap, harga karet jangan sampai anjlok lagi seperti beberapa waktu lalu, karena sebagian besar masyarakat bergantung dengan kebun karet. Kalau harga anjlok tentu saja sangat merugikan petani.
Harga karet di sejumlah tempat penjualan di Madina juga mengalami hal serupa. Menurut petani, hal ini disebabkan curah hujan yang cukup tinggi akhir-akhir ini, sehingga mengurangi kualitas atau kekeringan getah karet yang dijual oleh para petani karet, Demikian disampaikan oleh Ikhwan (43) salah seorang petani kareta usai menjual getahnya di Pasar Simangambat, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal (Madina), Jumat (30/9).

Menurut Ihwan, pekan ini harga karet jauh menurun dari harga biasanya. Bahkan, ini harga termurah dalam beberapa bulan terakhir. Harga getah karet hasil deresannya untuk pekan ini hanya laku Rp15 ribu per kilogram. Padahal, harga sebelumnya sebesar Rp18 ribu per kilogram.

Sejak beberapa bulan ini harganya baru kali ini jauh menurun, yakni Rp15 ribu per kilogram. Pekan lalu harganya masih Rp 18ribu perkilogram, dan biasanya harganya turun hanya Rp1.000 per kilogram.
Nuddin, salah seorang penadah getah karet di pasar Simangambat, menyebutkan, salah satu penyebab harga karet turun karena cuaca yang tidak baik. Artinya, semakin tinggi curah hujan itu maka getah hasil deresan itu akan banyak bercampur air dan kekeringannya tak seperti biasa, sehingga toke tak mau membayar dengan harga biasa.

“Orang pabrik senangnya kalau getah itu kering tanpa banyak air. Mereka bisa saja menaikkan harganya, tetapi kalau getahnya itu banyak bercampur air maka harganya juga akan turun karena harus dikeringkan lagi” sebutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s